Pengasuh juga manusia

Posted by LeonnieFM at 3:19 PM

Coba tanya sama semua ibu waras sedunia kalau ada di antara mereka yang lebih suka anak-anaknya dirawat oleh seorang pengasuh. Sejujurnya saya sih ga terlalu peduli jawaban mereka suka atau tidak suka. Saya sendiri akan menjawab antara suka dan tidak. Saya suka karena saat saya bersama anak-anak, saya bisa lebih fokus untuk main atau belajar bersama mereka. Membiarkan urusan lain padanya. Saya juga suka karena anak-anak saya akan bersama seseorang yang bisa saya atur dibanding jika dititipkan pada keluarga dan kemudian timbul masalah enak-tidak enak jika ada hal-hal yang tidak sesuai harapan diterapkan mereka saat mengasuh anak-anak.

Saya tidak suka kenyataan bahwa di negara kita pengasuh anak masih dipandang pekerjaan kelas bawah. Sehingga orang-orang yang pengambil profesi ini hanya sebatas alternatif dari pekerjaan pembantu, yang juga masih mengacu kepada jaman feodal. Mereka cuma pesuruh. Pesuruh tidak seharusnya berpendidikan, tidak seharusnya tampil manis enak dipandang, pesuruh tidak seharusnya punya hak apalagi angkat bicara. Mereka cukup bekerja dan menerima upah (yang tidak seberapa).

Karena kondisi itu, saya mendapat seorang pengasuh yang bekas suruhan mantan boss saya. Dia pun mengakui bahwa dirinya masuk golongan orang kurang pendidikan. SMP saja tidak lulus. Syukur puji Tuhan, dia tidak tergolong jelek. Hebatnya lagi, dia bukan wanita yang terlahir dengan kebodohan alami. Dia cuma tidak lama makan bangku sekolah, tapi otaknya cukup encer. Kemauannya memiliki pengetahuan tambahan sama sekali tidak jelek. Dia bahkan membaca buku lebih banyak daripada mahluk-mahluk sekantor saya yang mengaku makan banyak bangku sekolahan. ----- Namun kebiasaan bukanlah hal yang lebih mudah untuk diubah. Apalagi jika kebiasaan itu adalah akibat hidup dalam pengetahuan awal yang minim. Kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan, kerapihan dan hal-hal sejenis itu. Rasanya rumah sering jadi lebih tidak rapi dan bersih karena dukungan kebiasaannya. Jujur saya jadi lebih sering mengelus dada gara-gara kebiasaannya yang tidak sesuai standar saya itu. Menegurnya harus berkali-kali karena dia masuk kategori yang pelupa syukurnya tidak akut. Berangsur-angsur kebiasaan dia berubah walau juga tidak secepat kebutan Fernando Alonso. Yang aneh setelah saya perhatikan kebiasaan yang diterapkannya khusus untuk anak-anak saya justru rata-rata baik. Waktu saya tanya kenapa bisa begitu, dia jawab, dulu kan mbak Leonnie bilang supaya saya prioritas anak-anak. Urusan rumah manis belakangan. Sial, dia benar juga! Alhasil saya menambah armada asisten saya di rumah.

Saya dan suami punya pendekatan (berbeda) soal urusan para staff (terdengar gaya ya? *nyengir*). Nomor satu dan satu-satunya, staff kami adalah MANUSIA, dan bukan hanya di tataran pengetahuan. Manusia harus diperlakukan sebagai manusia. Manusia harus mendapat pengakuan, penghargaan, kebebasan dan kebutuhan-kebutuhan dasarnya dicukupi.

Tidak tega rasanya saat saya dan keluarga menyaksikan pengasuh-pengasuh yang duduk di meja kosong saat majikan dan keluarganya makan enak di sebuah restoran. Jijik saat melihat orang tua membiarkan anak-anak mereka dengan sengaja menjadikan pengasuhnya sasaran olok-olok dan aksi-aksi nakal macam pukulan dan tendangan di muka umum. Lebih jijik lagi jika justru pelakunya adalah sang orang tua.

Pernah suatu ketika rekan kerja sekantor mengaku hanya memberi libur pembantunya saat Lebaran itupun tidak lebih dari 3 hari. Jesus Lord!! Lebih parah saat saya tanya soal jam kerja sang pembantu yang dimulai dari jam 4 subuh hingga saat mereka baru beranjak masuk kamar tidur jam 11 malam. Dan dengan gaji tidak lebih dari jatah uang makan dari kantor sebulan yang cuma Rp. 12.500 dikali jumlah kehadiran. Jujur saat itu saya menahan tangan saya di bawah meja, dalam arti sesungguhnya, agar saya tidak sampai menampar muka wanita keparat pengusung perbudakan itu.

Saya rasa saya tidak perlu bercerita satu demi satu bagaimana kami memperlakukan wanita-wanita yang telah membuat hidup kami lebih nyaman di rumah. Kami hanya memperlakukan mereka sebagai manusia. Tidak lebih, tidak kurang. Bagaimana itu, tanya saja diri masing-masing bagaimana kau ingin diperlakukan sebagai manusia.

Hasilnya adalah 2 anggota keluarga baru yang akan siap membantu kami dengan segenap pikiran dan kemampuan mereka dengan senyum. Tubuh bersih wangi dan dandanan manis, langkah ringan dan wawasan terbuka. Tanpa kekhawatiran berlebih karena keluarga di kampung (seorang ibu dan 2 orang anak, seorang suami dan 2 orang anak) hidup dalam kenyamanan.

Saya Leonnie, seorang ibu bekerja, seorang upahan. Saya tidak mau diperbudak oleh perusahaan. Saya menolak untuk dianiaya dan dilecehkan. Saya tidak akan membuat manusia lain menerima dan merasakan apa yang saya sendiri tidak kehendaki.

0 comments: