Keluarga VS Pernikahan

Posted by LeonnieFM at 3:32 PM

Saya dan Fajar mengetahui bahwa saya hamil ketika umur kehamilan saya sudah 4 bulan. Saya begitu tidak perhatian dengan kondisi tubuh saya sampai-sampai bingung menghitung absennya si tamu bulanan dan malah mengira sesuatu yang patologis telah terjadi. Waktu si dokter genekologi itu bilang, "ya ampun itu mah tanda-tanda hamil bukan sakit, mbak!" Saya tidak yakin sampai terlihat di layar USG jantung kecil yang berdegup-degup. Serta merta saya dan Fajar jatuh cinta untuk kesekian kalinya dan kali ini melibatkan si kecil.

Lalu kami berdua berdiskusi tentang langkas selanjutnya. Menikah setelah atau sebelum kelahiran. Ya, kami waktu itu belum resmi menikah. Buat saya pribadi, persetan dengan institusi formal. Tapi kali ini urusannya berbeda. Kami menimbang baik buruknya. Jangan pikir kami memperhitungkan apa kata si A dan si B, apalagi si C. Yang kami pertimbangkan adalah baik - buruk bagi anak kami dan masa depannya. Pertimbangan logis mengatakan pernikahan akan melindungi dia di mata hukum dan penting bagi kami agar dia tidak cacat di mata hukum. Jadi kami menikah.

Pernikahan kami sudah 4 tahun yang lalu dan kami kini sudah memiliki 3 anak. Soal berkeluarga, kami salah satu yang beruntung. Walau bukan tanpa cobaan. Kedua belah pihak keluarga kami akur dan sangat mendukung. Saya dan suami juga begitu. Intinya kami berbahagia.

Kadang saya ditanya apa resepnya. Saya balik bertanya, "bagaimana cara kamu dan pasangan bertengkar?" Yang ditanya balik biasanya menjawab dengan segala macam metode bertengkar. Namun jarang sekali yang menjawab dengan mencirikan bagaimana saya dan Fajar melakukannya. Saya dan Fajar bertengkar dengan cara berdiskusi. Mendiskusikan perbedaan pendapat kami sambil makan di cafe dan menyusun strategi mengatasi permasalahan. Tidak ada piring di banting, suara meninggi apalagi kekerasan. Kami sangat saling menghargai satu sama lain untuk melakukan kekerdilan macam itu. Dan saat kami begitu berbeda hingga tak mampu berbicara, kami tidak memaksakan pembicaraan itu terjadi sampai kami siap.

Begitulah seharusnya sebuah pernikahan bagi saya. Hidup membangun masa depan dengan orang yang kita cintai dengan mengatasi perbedaan. Untuk itu tidak diperlukan pengesahan dari setan gombal atau malaikat manapun. Hanya diperlukan kematangan, kedewasaan, akal sehat.

Saya kasihan melihat seorang teman di kantor yang banting tulang pergi ke segala penjuru tempat mencari cara agar dia bisa hamil padahal tidak ada masalah dengan kesuburan mereka berdua. Alasannya karena dia sudah menikah sekian tahun dan akan semakin memalukan kalau belum punya anak sampai sekarang. Jadi dia menikah untuk punya anak? Buat saya itu terdengar sempit sekali. Dia tanya bagaimana saya bisa punya anak 3 orang dalam jarak beruntun macam gerbong kereta. Saya bilang, karena saya melakukan hubungan seksual dengan suami saya. Saya sarankan sama dia untuk melupakan segala metode aneh-aneh yang dia cari dan segera membangun hubungan emosional yang baik dengan sang suami, lalu habiskan waktu berduaan dengan mesra dan penuh keinginan untuk saling memberi dan membahagiakan. Kan seperti saya baca celoteh para seksiolog bahw sex yang baik adalah sex yang merelaksasi, yang memberi kepuasan bagi kedua belah pihak baik jasmani maupun rohani. Saya rasa itu bukan omong kosong.

Sungguh saya tidak menentang pernikahan, karena saya toh adalah wanita menikah. Apalagi soal anak. Saya sejak dulu menginginkan anak-anak dalam kehidupan saya. Yang saya ingin gugah adalah konsep kita dalam membangun keluarga. Kebahagiaan keluarga kita tidak terletak di sebuah kertas terbitan institusi manapun. Tidak juga dari pandangan kaum, sekte, partai, si anu dan si itu yang sibuk berceloteh menilai dan mengatur dari luar sana. Saya percaya bahwa kebahagian teraih saat kita berhenti berbohong pada diri kita sendiri. Pegang teguh prinsip kita dan perjuangkan dengan damai. Damai bukan artinya terus-terusan mengalah kok.

Dan saat pernikahan anda diisi oleh anda dan pasangan seorang, bukan berarti anda tidak memiliki keluarga. Juga bukan berarti keluarga anda tidak lengkap. Keluarga seharusnya adalah hubungan harmonis antara anggotanya. Jika pasukannya lengkap tapi saling tusuk menusuk apa pantas disebut keluarga? Jadi tidak salahkan kalau saya bilang keluarga adalah urusan kualitas dan bukan kuantitas?

Saya Leonnie, wanita berkeluarga (bahagia) yang tidak percaya pada institusi pernikahan (dan aturan-aturan gombal buatan manusia yang mungkin tidak becus jadi anggota keluarga).

"screw your hygiene, you selfish bitch!"

Posted by LeonnieFM at 11:26 AM

Tahu tidak apa yang bikin manusia modern jaman sekarang senang punya blog? Saya yakin karena KITA semua bisa menulis apapun seenak udel kita karena blog ini/itu punya kita masing-masing. Kita bisa senarsis yang kita mau dan yang paling paling paling saya suka adalah saya bisa memaki dan menghujat siapapun dan apapun yang bikin hati saya jengkel.
Hari ini yang bikin saya jengkel dan akan saya hujat habis-habisan adalah pengguna toilet umum yang sembarangan.
Di kantor saya ada toilet di tiap lantai. Lantai pertama tersedia toilet dengan kloset jongkok dan lantai kedua dengan kloset duduk. Kenapa diatur demikian saya tidak terlalu peduli untuk menanyakan. Posisi mereka ibarat saling menumpuk alias tepat atas-bawah dengan tangga tepat di depannya. Kebayangkan?
Jadi kalau jaraknya begitu dekat, apakah salah jika saya bertanya kenapa seseorang lebih suka menggunakan kloset duduk dengan berjongkok di atasnya. Saya sih yakin jawaban yang paling benar adalah karena dia DUNGU. Dan fakta bahwa dia akan meninggalkan si kloset dengan kondisi kotor oleh cap sepatunya tanpa bersusah payah membersihankan dengan sepotong tissue, sungguh membuat saya ingin berteriak, "screw your hygiene, you selfish bitch!"
Saya sangat memaklumi kalau kloset itu berada di sebuah gedung perniagaan yang ramai dengan toilet yang terlanjur jorok, banjir dan bau. Lalu atas nama kebersihan dan kesehatan pribadi si kloset lebih baik diinjak daripada diduduki. Saya jadi bertanya kalau si dungu itu kebelet pipis saat berada di sana apa dia lebih suka menahan pipisnya? Atau dia akan pipis berdiri macam anjing?

Hidup jaman sekarang begitu enak, segala jenis barang tersedia, mulai dari yang tidak berguna sampai terlalu banyak fungsinya. Semua produsen berlomba membuat produk yang diklaim paling canggih dan multiguna. Selembar tissue yang akan rontok begitu ketetesan air sampai basah oleh cairan antiseptik pembasmi kuman dijejer di rak-rak di swalayan begitu panjang. Di rak itu setiap wanita yang sangat peduli oleh kesehatan bagian kewanitaannya tahu bahwa tersedia tissue yang khusus dibuat untuk bagian yang sangat intim itu. Kalau ternyata tidak di sana, coba deh cek di bagian kosmetik atau obat-obatan. Adik ipar saya yang paling berisik tentang masalah satu itu punya sedikitnya 3 macam tissue tersedia di tasnya. Kering, basah dan feminin. Belum lagi cairan antiseptik dengan botol imut yang multiguna, mulai dari cuci tangan sampai membersihkan bagian luar barang-barangnya. Semua produk itu tersedia dalam harga terjangkau.

Kalau kita begitu tidak ingin tertular oleh penyakit dari kotoran apapun, kenapa tidak berpikir bahwa orang lain juga menginginkan hal yang sama? Jika saat kita mulai menggunakan sarana publik dalam kondisi baik, kenapa tidak meninggalkannya dalam kondisi baik juga? Apakah begitu banyak orang berpikir bahwa pekerjaan membersihkan toilet dan klosetnya hanya untuk OB di kantor atau petugas kebersihan? Kalau iya, sebaiknya bungkam saja mulut kita saat absen di toilet umum di gedung yang tidak menyediakan petugas kebersihan, melainkan pandang muka kita lekat-lekat di cermin butek itu karena di sana ada wajah orang-orang yang tidak percaya bahwa kebersihan berasal dari dalam diri sendiri.

Saya Leonnie, saya bukan hygiene-freak. Saya adalah wanita serampangan yang lebih memilih kloset duduk dan akan meninggalkannya dalam kondisi kering & bersih hanya karena saya pikir itu adalah benar. Titik.

Pengasuh juga manusia

Posted by LeonnieFM at 3:19 PM

Coba tanya sama semua ibu waras sedunia kalau ada di antara mereka yang lebih suka anak-anaknya dirawat oleh seorang pengasuh. Sejujurnya saya sih ga terlalu peduli jawaban mereka suka atau tidak suka. Saya sendiri akan menjawab antara suka dan tidak. Saya suka karena saat saya bersama anak-anak, saya bisa lebih fokus untuk main atau belajar bersama mereka. Membiarkan urusan lain padanya. Saya juga suka karena anak-anak saya akan bersama seseorang yang bisa saya atur dibanding jika dititipkan pada keluarga dan kemudian timbul masalah enak-tidak enak jika ada hal-hal yang tidak sesuai harapan diterapkan mereka saat mengasuh anak-anak.

Saya tidak suka kenyataan bahwa di negara kita pengasuh anak masih dipandang pekerjaan kelas bawah. Sehingga orang-orang yang pengambil profesi ini hanya sebatas alternatif dari pekerjaan pembantu, yang juga masih mengacu kepada jaman feodal. Mereka cuma pesuruh. Pesuruh tidak seharusnya berpendidikan, tidak seharusnya tampil manis enak dipandang, pesuruh tidak seharusnya punya hak apalagi angkat bicara. Mereka cukup bekerja dan menerima upah (yang tidak seberapa).

Karena kondisi itu, saya mendapat seorang pengasuh yang bekas suruhan mantan boss saya. Dia pun mengakui bahwa dirinya masuk golongan orang kurang pendidikan. SMP saja tidak lulus. Syukur puji Tuhan, dia tidak tergolong jelek. Hebatnya lagi, dia bukan wanita yang terlahir dengan kebodohan alami. Dia cuma tidak lama makan bangku sekolah, tapi otaknya cukup encer. Kemauannya memiliki pengetahuan tambahan sama sekali tidak jelek. Dia bahkan membaca buku lebih banyak daripada mahluk-mahluk sekantor saya yang mengaku makan banyak bangku sekolahan. ----- Namun kebiasaan bukanlah hal yang lebih mudah untuk diubah. Apalagi jika kebiasaan itu adalah akibat hidup dalam pengetahuan awal yang minim. Kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan, kerapihan dan hal-hal sejenis itu. Rasanya rumah sering jadi lebih tidak rapi dan bersih karena dukungan kebiasaannya. Jujur saya jadi lebih sering mengelus dada gara-gara kebiasaannya yang tidak sesuai standar saya itu. Menegurnya harus berkali-kali karena dia masuk kategori yang pelupa syukurnya tidak akut. Berangsur-angsur kebiasaan dia berubah walau juga tidak secepat kebutan Fernando Alonso. Yang aneh setelah saya perhatikan kebiasaan yang diterapkannya khusus untuk anak-anak saya justru rata-rata baik. Waktu saya tanya kenapa bisa begitu, dia jawab, dulu kan mbak Leonnie bilang supaya saya prioritas anak-anak. Urusan rumah manis belakangan. Sial, dia benar juga! Alhasil saya menambah armada asisten saya di rumah.

Saya dan suami punya pendekatan (berbeda) soal urusan para staff (terdengar gaya ya? *nyengir*). Nomor satu dan satu-satunya, staff kami adalah MANUSIA, dan bukan hanya di tataran pengetahuan. Manusia harus diperlakukan sebagai manusia. Manusia harus mendapat pengakuan, penghargaan, kebebasan dan kebutuhan-kebutuhan dasarnya dicukupi.

Tidak tega rasanya saat saya dan keluarga menyaksikan pengasuh-pengasuh yang duduk di meja kosong saat majikan dan keluarganya makan enak di sebuah restoran. Jijik saat melihat orang tua membiarkan anak-anak mereka dengan sengaja menjadikan pengasuhnya sasaran olok-olok dan aksi-aksi nakal macam pukulan dan tendangan di muka umum. Lebih jijik lagi jika justru pelakunya adalah sang orang tua.

Pernah suatu ketika rekan kerja sekantor mengaku hanya memberi libur pembantunya saat Lebaran itupun tidak lebih dari 3 hari. Jesus Lord!! Lebih parah saat saya tanya soal jam kerja sang pembantu yang dimulai dari jam 4 subuh hingga saat mereka baru beranjak masuk kamar tidur jam 11 malam. Dan dengan gaji tidak lebih dari jatah uang makan dari kantor sebulan yang cuma Rp. 12.500 dikali jumlah kehadiran. Jujur saat itu saya menahan tangan saya di bawah meja, dalam arti sesungguhnya, agar saya tidak sampai menampar muka wanita keparat pengusung perbudakan itu.

Saya rasa saya tidak perlu bercerita satu demi satu bagaimana kami memperlakukan wanita-wanita yang telah membuat hidup kami lebih nyaman di rumah. Kami hanya memperlakukan mereka sebagai manusia. Tidak lebih, tidak kurang. Bagaimana itu, tanya saja diri masing-masing bagaimana kau ingin diperlakukan sebagai manusia.

Hasilnya adalah 2 anggota keluarga baru yang akan siap membantu kami dengan segenap pikiran dan kemampuan mereka dengan senyum. Tubuh bersih wangi dan dandanan manis, langkah ringan dan wawasan terbuka. Tanpa kekhawatiran berlebih karena keluarga di kampung (seorang ibu dan 2 orang anak, seorang suami dan 2 orang anak) hidup dalam kenyamanan.

Saya Leonnie, seorang ibu bekerja, seorang upahan. Saya tidak mau diperbudak oleh perusahaan. Saya menolak untuk dianiaya dan dilecehkan. Saya tidak akan membuat manusia lain menerima dan merasakan apa yang saya sendiri tidak kehendaki.

Olahraga di masa kehamilan

Posted by LeonnieFM at 9:19 AM

Belum lama ini saya mendapat pertanyaan dari seorang teman, dititipkan lewat suami. Kalimat jelasnya saya lupa, isinya tentang melakukan aktifitas berolahraga dalam masa kehamilan. Sejujurnya saya paling suka kalau ditanya seputar masa kehamilan, bukan cuma karena saya sudah mengalami 3 kali kehamilan & kelahiran yang syukurnya lancar. Setiap saya punya kesempatan meneruskan informasi seputar masa kehamilan, saya akan langsung terjun bebas ke dalamnya.

OLAHRAGA PADA MASA KEHAMILAN ADALAH BAIK!
Olahraga secara teratur (terutama pada masa kehamilan) dapat memberi kepuasan baik secara fisik maupun emosional. Jika dilakukan dengan baik olahraga baik untuk persiapan terhadap perubahan-perubahan yang akan terjadi kemudian.
- Sakit punggung, keram kaki, sembelit dan sesak nafas dapat berkurang oleh olahraga rutin
- Ibu hamil akan lebih siap menghadapi proses kelahiran
- Setelah melahirkan akan lebih cepat kembali ke poster sebelum hamil

Berapa sering?
Sedikit latihan beberapa kali sehari lebih baik daripada banyak latihan sekaligus.
Gabungkan kegiatan sehari-hari dengan latihan- latihan kecil. Latihan bagi kaki dan engkel saat sedang duduk di kursi kantor, bersila saat membaca atau menonton televisi. Lakukan semuanya dengan santai.

Olahraga apa?
Ibu hamil bisa berolahraga sampai akhir semester ketiga! Jangan lupa untuk melakukan peregangan sebelum berlatih.
- berjalan: baik untuk pencernaan, peredaran darah dan postur tubuh. Cobalah berjalan tegak dengan bokong ditarik ke dalam, bahu ke belakang dan kepala tegak. Kurangi jarak jika usia kehamilan makin tua terutama jika punggung terasa sakit. Gunakan sepatu datar yg empuk.
- berenang: otot akan lebih lemas dan paling baik untuk meningkatkan stamina. Karena air menyangga berat tubuh, jarang terjadi cedera.
- Yoga: baik untuk pelemasan dan mengurangi tekanan, juga untuk membantu ibu mengatur pernafasan dan konsentrasi saat proses melahirkan. Jangan lupa memberi tahu instruktur bahwa anda sedang hamil!
Jangan lakukan!
Beberapa jenis olahraga tidak boleh dilakukan pada masa kehamilan, terutama saat kehamilan besar dan beresiko jatuh karena tubuh kurang mampu menjaga keseimbangan. Hindari olahraga yang membuat tubuh tegang.
- Jogging: jangan lakukan ini saat kehamilan karena berat untuk buah dada yang lebih butuh support saat kehamilan.
- Angkat beban: pada punggung atau mengangkat beban berlebihan akan memberi takanan dan kemungkinan cedera pada persendian (punggung). Persendian pada masa kehamilan akan meregang dan tidak seperti otot, persendian tidak kembali ke bentuk awal.
- Sit-up: JANGAN LAKUKAN! Otot longitudinal pada perut dirancang untuk terpisah di tengah untuk memberi ruang saat uterus membesar. Gerakan duduk langsung dari posisi tidur akan membuatnya melebar lebih jauh. Mengangkat kaki pada posisi terlentang akan memiliki efek yang sama.
Baik untuk sang bayi!
Saat melakukan latihan, peredaran darah anda pada kondisi maximum sehingga jika dilakukan sesuai kapasitas anda, bayi akan mendapat pompa oksigen. Seluruh jaringannya terutama otot akan berfungsi optimal. Gerakan olahraga akan memberi kenyaman bagi bayi. Pelepasan hormon endorphin juga akan dirasakan bayi.
Posisi dasar: telentanglah, lutut ditekuk, kaki terbuka kira-kira 30cm, telapak kai rata di lantai. Beri bantal untuk kepala dan pundak. Tangan diletakan santai di samping tubuh. Posisi dasar hanya dapat dilakukan hingga bulan ke-4. Setelah itu latihan dengan posisi rata pada punggung tidak direkomendasi.
Lakukan Kegel; tegangkan perlahan otot disekitar vagina dan anus, tahan selama mungkin (hingga 8-10 detik) lalu perlahan lepaskan otot dan relax. Lakukan 3 set sehari masing-masing sebanyak 10-20 kali. Latihan Kegel bisa diteruskan hingga akhir masa kehamilan dengan posisi duduk atau berdiri.
*Untuk memastikan anda menggunakan otot yang tepat, berlatih Kegel bisa dengan menahan arus air seni saat anda pipis. Saat air seni berhenti, anda sedang menggunakan otot yang tepat.

Latihan panggul: telentang pada posisi dasar. Hembuskan nafas saat memberi tekanan pada sebagian punggung ke arah lantai. Lalu tarik nafas dan lepaskan. Lakukan beberapa kali. Latihan ini juga dapat dilakukan pada posisi berdiri membelakangi tembok, punggung rata pada tembok. Setelah usia kehamilan empat bulan, lakukan latihan ini hanya dari posisi berdiri.

Dromedary Droop: Latihan ini berguna sepanjang masa kehamilan hingga saat hendak melahirkan untuk meredakan tekanan karena uterus/rahim yang membesar. Posisikan tubuh pada tangan dan lutut. Usahakan punggung pada kondisi relax namun lurus. Kepala dan leher pada satu garis dengan punggung. Lalu tinggikan punggung anda, ketatkan perut dan bokong sehingga kepala turun ke bawah. Lalu lepaskan perlahan hingga kembali ke posisi awal. Ulangi beberapa kali.

Posisi pelaut/bersila: katupkan telapak kaki di depan tubuh, punggung tegak relax. Tarik telapak kaki mendekat ke arah tubuh dan paha turun ke arah lantai. Bahu tetap relax. Lakukan beberapa kali setiap hari. Bisa dikobinasikan dengan gerakan peregangan tangan dan leher.

Ibu dapat menikmati proses kelahiran lebih baik jika tubuhnya dipersiapkan. Gunakan waktu 20-30 menit setelah berlatih untuk melakukan relaksasi. Tidur dalam posisi setengah telungkup dengan kepala, bahu dan lengan tertekuk diatas sebuah bantal. 1 buah bantal lagi di bawah paha dan lutut pada sisi yang sama dengan lengan.

Bahan:
- What to expect when you're expecting
(Murkoff, Eisenberg & Hathaway - Workman Publishing)

- Healthy pregnancy (Dr. Miriam Stoppard - Dorling Kindersley)

Anak: mulai berbicara & pengaruh media

Posted by LeonnieFM at 11:47 AM

Kepindahan kami sekeluarga ke rumah yang baru memberi suatu masalah baru terutama bagi Immi. Perempuan cilik berusia 2,5 tahun ini sedang asik mengumpulkan banyak kosa kata baru di lidahnya. Immi membeo semua kata yang terlontar ke telinganya walau kadang hasilnya tidak sesuai harapan pendengarnya.
Mandi : madi
Window : migow
Monkey : mogen (Immi adalah kependekan dari Imogen, walah!)
Makan : megan
Rumah baru ini dihuni oleh semua penghuni rumah lama kecuali sambungan televisi berlangganan yang menyiarkan Playhouse Disney, siaran televisi favoritnya. Sialnya televisi berlangganan yang diselenggarakan oleh rekanan pengelola apartment hunian kami sekarang tidak punya channel tersebut di daftarnya. Tidak soal apa kata orang soal balita menonton telivisi, misi Playhouse untuk membantu balita (dan orangtuanya) untuk belajar berbicara, membaca, berhitung sampai sopan santun dan budaya, bagi kami tepat sasaran. Jujur saya lebih merelakan anak-anak saya berbahasa Inggris lebih baik dari pada bahasa Indonesia sebagai konsekwensi jika televisi lokal tidak mampu menyajikan tontonan sehat bagi anak-anak. Televisi lokal yang katanya menyasar khusus kepada anak-anakpun masih sangat terlihat setengah-setengah (kalau tidak seperempat-seperempat) dalam merealisasikan visi-misinya. Acara kacau balau tanpa tujuan dan dikemas sembarangan cuma jadi bukti ketidak-mampuan pemilik mengelola usahanya. A complete waste of resources!

"Kesialan" itu tidak boleh diratapi terus menerus, apalagi kamikan masih tetap ingin jadi orang tua yang baik untuk Immi dan kedua anak kami yang lain. Kami terus berusaha meningkatkan keterlibatan kami agar Immi terus memiliki kosa kata baru setiap harinya. Bujukan produsen susu yang diminum Immi untuk menggunakan metode Glenn Doman untuk mengajarinya membacapun dilakoni. Sejauh ini saya melihat metode ini positif karena metode ini mengesampingkan ujian bagi anak. Jargonnya yang mengatakan bahwa mendidik adalah memberi, terus saya pegang teguh.

Di belakang Immi menguntit Ilya, si cerewet berumur 9 bulan, kosa kata pertamanya adalah "mama" - menurut beberapa tulisan lain, bayi mulai mencoba berbicara pada umur ini atau lebih awal. Ilya tertarik memperhatikan bibir yang bergerak dan berusaha menggerakan bibirnya juga. Dia juga sangat menyukai momen-momen di mana dia diajak ngobrol. Ilya akan rela berebut laptop mainan yang mengeluarkan suara alpabet karena ketertarikan besarnya pada suara. Omong-omong, laptop mainan hadiah dari sebuah bank itu jadi media lumayan hebat untuk menambah kosa kata Immi. Selain membeo kosa kata yang disuarakan sang mainan, Immi juga belajar mengoperasikan alat, berhubung benda ini punya hampir 30 mode yang perlu memasukan sejumlah angka untuk memainkan mode pilihan. Hari demi hari beo-an Immi semakin sesuai dengan bunyi awal, Monkey tidak lagi di-beo-kan "mogen" melainkan monkey.

Permasalahan kami soal anak dan berbicara tidak berhenti di sana. Pengaruh sekitar anak-anak kami sekarang masih belum dalam format yang tepat, rasanya. Saya dan suami masih menggunakan 2 bahasa secara campur sari (Inggris dan Indonesia), sepengetahuan kami hal tersebut dapat memberi kebingungan pada anak sehingga dapat mempengaruhi kecepatan mereka berbicara. Materi bacaan pendukung latihan berbicara dan membaca juga masih campur aduk dalam dua bahasa tersebut. Saya belum menemukan tulisan pendukung untuk pro atau kontra atas topik ini. Semoga akan ada yg mau memberi komentar saran pada tulisan ini.