Indonesia 1.5 - pertemuan pertama yang menggugah

Posted by LeonnieFM at 8:18 AM

Jam 5 tepat saya, Fajar Jasmin dan Dody Herlambang sudah tiba di Kafe Pisa di jalan Gereja Theresia. Suasana masih lengang walau sedikit "berisik" karena house band sedang check sound. Sedikit lewat dari setengah jam ngobrol bertiga, Pico dan Muswardi muncul di ambang pintu dan segera bergabung. Anna Simanungkalit juga segera muncul disusul oleh Budi Putra. (Ivan Lanin bergabung sekitar jam 7.30, datang bersama jeng Nanda & si kecil Akra)

Sesaat setelah tajil dihidangkan, kami bertukar nomor telepon. Asyik sekali ternyata menjadikan kegiatan itu sebagai ice breaker sebuah pertemuan. Singkat cerita, sambil berbuka puasa kami asyik sharring macam-macam topik. Fajar dan Anna dengan Dostoevsky, mas Budi, Pico dan mas Ardy asyik membicarakan dunia blog. Semua seru.

Fajar membuka bahasan pertemuan kami dengan mengatakan kenapa dulu ia mencetuskan Indonesia 1.5 (more than a person), disusul penjelasan singkat misi untuk give back kepada masyarakat dengan cara yang lain dari yang telah banyak dilakukan.

Dari sanalah semua pertukaran ide dan diskusi itu dimulai. Dengan pemahaman yang sama bahwa kami hendak berbagi kepada masyarakat dan diungkapkan dalam bahasa berbeda-beda, saat itu, buat saya pribadi, adalah moment yang luar biasa.

Kami punya keresahan yang sama, tanpa bermaksud menjadi sombong kami katakan dengan lantang bahwa kami resah akan rendahnya kapasitas manusia-manusia Indonesia. Kami menyimpulkan bahwa segala hambatan yang menyebabkan bangsa ini masih menjadi pelengkap penderita kemajuan dunia adalah karena kapasitas manusianya. Dan tingkat kapasitas itu tidak ditentukan oleh, contohnya, seberapa melek teknologikah dia.

Jadi kami rumuskan bahwa misi kami adalah berbagi kepada mereka yang membutuhkan dengan cara yang tidak biasa dan sejalan dengan itu bertumbuh secara kapasitas, menjadi manusia yang lebih baik.

Terdengar begitu megah. Tapi percayalah, tiada kata-kata arogan nan megah saat kami membahas semua hal tersebut. Kebanyakan dari kami berbagi keresahan akan perasaan sepi yang kami rasakan dan kesulitan kami menggandeng teman untuk dapat berbagi dengan harapan kedua belah pihak mendapat manfaat yang sesungguhnya.
Mengapa saya katakan demikian? Karena banyak terjadi dimana bantuan yang diberikan bukanlah bantuan yang dibutuhkan, dan yang memberi bantuan sendiripun tidak memahami inti dari permasalahan sehingga tak ada pihak yang dalam proses itu kemudian mendapat makna.

Bertukar cerita dan ide, kami kemudian mengerucut kepada satu keputusan awal untuk membuat sebuah pilot project pengumpulan buku bagi wanita korban kekerasan rumah tangga. Seperti ditulis Fajar dalam laporannya tentang pertemuan ini, kami tidak bisa mengungkapkan kepada publik siapa dan dimana wanita-wanita tersebut. Dan jika telah terlaksanapun kami tetap tidak dapat secara gamblang melaporkan kepada publik. Semua demi keamanan mereka. Buku yang hendak kami kumpulkan adalah buku yang inspirasional sampai buku yang murni hiburan dengan harapan mereka mampu menjadi pelipur lara bahkan pembangkit semangat dalam masa-masa terpuruk.

Kami mengajak semua pembaca mencari buku yang dapat disumbangkan bagi para istri dan ibu tersebut. Dan saya pribadi menggugah anda untuk membaca buku tersebut sebelum anda berikan kepada kami untuk mendapat jawaban mengapa buku tersebut baik untuk dibaca oleh mereka yang telah terluka jiwa dan raga karena kekerasan rumah tangga.

Mari teman, kita berbagi dengan pengetahuan mengapa kita berbagi.


Terima kasih untuk semua yang telah hadir pada pertemuan ini, anda semua adalah inspirasi buat saya.


Update:
1. Sebuah mailing list telah dibuat untuk menjadi media komunikasi tambahan untuk semua member dan terbuka bagi siapa saja yang ingin membantu. Sampai bertemu di sana.

Hukumanmu: duduk manis 30 menit

Posted by LeonnieFM at 11:06 AM

Rasanya wajah ini baru menoleh sedetik saja, tiba-tiba Ilya si kecil sudah tersungkur di lantai dan menangis kesakitan. Di sebelahnya Immi masih terlihat baru menarik tangannya sehabis mendorong Ilya tersungkur di lantai. Apa alasannya tidak jelas, karena sejenak lalu keduanya masih asyik bermain. Setelah memastikan tidak ada hal serius terjadi pada Ilya, padangan langsung diarahkan pada Immi, dia sedang pasang muka kaget dan bilang "nangis yaaaa?"

Immi, ya ampun, gadis kecil yang belum genap 3 tahun itu, paling pandai mengambil hati. Setiap muka kami sudah ditekuk dan merona merah marah, dia akan dengan lucu memeluk kami, mencium pipi kami dan bilang "cium yaaaaa" Igo, dia lebih sulit lagi.... dia merasa dunianya milik dia sendiri dan dialah rajanya. Tak ada kesalahan baginya. Setiap kami marah dia akan membalas dengan mengepalkan tangan gemas dan membuat suara menahan. Ilya? dia baru saja lewat bulannya yang ke 10 sejak kelahirannya.

Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih anak ini bikin gemas kesal banget kali ini. Tangan saya langsung menunjuk pada sebuah meja. Bibir Immi langsung berubah bentuk, menahan tangis. Tangannya saya gandeng kemudian tubuhnya saya angkat, didudukan di atas meja. "Immi, Ilya sakit kalau didorong begitu. Nah, sekarang Immi duduk di sini setengah jam ya, nanti sudah turun ga boleh dorong Ilya lagi. Dorong koko Igo juga ga boleh ya........." Immi sambil menahan tangis menjawab, "duduk ya? sakit ya?"

Jadi orang tua memang beneran ga mudah! Mendidik mereka adalah tugas paling berat dan kemungkinan kita melakukan kesalahan sangat besar setiap menitnya. Sekian banyak pakar berlomba-lomba memberikan arahan bahkan motivasi yang begitu pesimisnya saya yakini kalau belum tentu mereka becus melakukannya dengan keluarga sendiri. Urusan hukum menghukum anak karena kenakalan dan kesalahan mereka adalah salah satu topik yang sangat saya cermati. Pantang memukul anak dan hukuman fisik lain, kata-kata kasar juga diharamkan di rumah kami. Tidak mudah kadang menahan emosi jika tidak mengingat bahwa mereka tidak mengetahui bahkan tidak mengerti resiko dan akibat dari tindakan mereka. Dan berteriak bahkan memukul mereka tidak akan membuat mereka lebih mengerti.

Akhirnya meja atau kursi di rumah menjadi jawaban bagi saya. Biarkan anak duduk beberapa saat, katakanlah sebagai hukuman, biar dia menangkap bahwa apa yang baru saja ia lakukan tidak diperkenankan. Soal mengapa dan seterusnya biarlah menjadi bahan untuk sesi-sesi lain di kemudian hari, saat anak sudah dapat diajak diskusi lebih lanjut.

Anak-anak mulai mengerti bahwa mereka sedang mengalami suatu sesi khusus kalau mommy atau daddy sudah mengantar mereka ke meja dan menunjuk pada jam dinding. Igo dan Immi walau mampu tidak akan turun sampai kami memeluk menggendong mereka turun. Tangisan mereka juga sudah berubah, bukan lagi protes karena tidak boleh turun melainkan karena menyesal. Nah! Ini satu lagi perang batin, menahan diri tidak cepat luluh saat mendengar senggukan sedih mereka. Tunggu ya sayang, waktumu belajar menanggung resiko atas sebuah perbuatan masih beberapa menit lagi. Inilah hidup, tapi jangan kau takut, mommy & daddy ada di sampingmu menemanimu belajar.

Dulu sering dengar orang bilang, kalau dihukum artinya disayang. Apa iya? Hukuman yang seperti apa? Kalau bukan hukuman yang mendidik dan tidak mengacaukan rasa aman dalam diri anak, apa masih ada kasih sayang dalam hukuman itu?

Ga sabar deh nunggu saat anak-anak cukup besar untuk diajak diskusi, sekarang cuma bisa geli-geli sendiri saat Immi berusaha meniru gaya berdialogku dan Fajar. Dia duduk manis di depanku dan bicara sederet panjang kata-kata dalam bahasa bayinya yang 99% tidak kumengerti. Saat aku tersenyum geli atau memalingkan wajah, tangannya akan ditakupkan di pipiku dan dia berseru gemas kesal...... "mommy, iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhh." Ya ampun, giliran mommy yang harus dihukum ya Mi?